anthrax

 

 

Hampir semua hewan berdarah panas peka terhadap penyakit Anthrax.

 

Di  Indonesia, penyakit Anthrax sering terjadi pada :

  1. Sapi
  2. Kerbau
  3. Kambing
  4. Domba
  5. Kuda

Disamping itu, anjing juga dapat tertular apabila memakan daging hewan yang telah mati. Babi dapat tertular lewat pemberian makanan yang tercemar spora Anthrax (misal : Bone meal dan sisa-sisa jaringan hasil pemotongan hewan). Pada beberapa daerah dilaporkan bahwa burung onta juga dapat terserang Athrax. Burung pemakan bangkai (kadaver)  tidak tertular, tetapi dapat bertindak sebagai penyebar penyakit ke daerah lain.

Jalannya penyakit dapat melalui peroral/ tertelan, perinhalatinoum/pernafasan, dan melalui kulit. Melalui peroral /tertelan dapat menimbulkan penyakit Athrax intestinal. Melalui perinhalatinoum/pernafasan dapat menimbulkan penyakit Anthrax paru-paru atau pulmonary Anthrax. Melalui kulit dapat menimbulkan penyakit Anthrax kulit atau malignant pustule. Ketiganya dalam bentuk akut dapat menimbulkan kematian.

 

Morfollogi kuman penyebab antraks :

Penyakit antraks disebabkan oleh infeksi dari bakteri Bacillus anthracis. Bacillus anthracis mempunyai morfologi sebagai berikut :

  1. Bentuk batang
  2. Berukuran ±1 –  1,5 miron x 3 – 8 mikron
  3. Bersifat aerobic
  4. Non motil
  5. Gram positif
    1. Isolat specimen dari hewan sakit berbentuk dalam rantai pendek yang dikelilingi oleh kapsul yang jelas terlihat.
    2. Membentuk spora (amat tahan terhadap pengaruh lingkungan)

 

Macam – macam anti gen yang dihasilkan oleh Bacillus anthracis:

  1. Protective antigen, berupa protein yang berperan dalam merangsang pembentukan antibody.
  2. Capsular antigen, merupakan polipeptida yang terdir dari asam D. Glutamat yang berfungsi melindungi kuman terhadap proses fagositosis.
  3. Somatic antigen, terdiri atas polisakarida, dimana antigen ini tidak memegang peranan penting pada virulensi kuman.

Bacillus anthracis mempunyai eksotoksin kompleks yang terdiri atas protective Ag (PA), lethal factor (LF), dan edema factor (EF). Ketiga komponen tersebut berperan bersama – sama dalam menimbulkan gejala penyakit antraks. PA+LF+EF akan menghasilkan edema, nekrosis, dan kematian.

Penularan antraks dari hewan kepada manusia umumnya terjadi secara kontak  dengan hewan atau hasil hewan. Penularan antraks dapat juga melalui:

  1. Kulit yang terluka akan menimbulakan anthrak kulit dengan lesi khas (anthraks kulit = malignant pustule)
  2. Pernafasan (per. inhalationum) yang akan menimbulokan anthraks paru – paru / pneumonia dengan penyakitnya yang disebut wool sorter’s disease
  3. Tertelan (per-oral) yang akan menimbulakan penyakit anthraks intestinal yang menyebabkan enteritis hebat disertai diare berdarah.
  4. Vector makanik lalat Tabanus Sp. dan Stomoxys Sp. kutu penghisap darah Ornithodorus megnini, akan tetapi perantara insekta tersebut tidak begitu basar dalam kejadian wabah

 

Jalanya penyakit yang menyebabkan kematian mendadak pada penderita anthraks bentuk akut:

 

  1. Per-oral / tertelan

Bakteri anthraks tertelan akan masuk system lymafatik dan menimbulkan limfangitis serta lymphadenitis yang kemudian menimbulakan septicaemia (radang limpha). Bila bakteri masuk ke salauran pencernaan bagian tengah dan bawah akan menimbulkan enteritis ulcerativa ethaemorrhagica. Perkembangan bakteri anthraks dalam sistem lymfatik relative lebih lambat, tetapi begitu masuk ke dalam aliran darah, bakteri ini berkembang sangat cepat yang berlangsung terus sampai kematian. Kematian umumnya disebabkan oleh pengaruh protoksin yang menimbulakan gangguan susunan saraf pusat berupa kelumpuhan pusat respirasi dan mengakibatkan hipoksia.

 

  1. kulit

Anthraks kulit mempunyai lesi yang khas dimulai dari papula kecil berwarna merah dan menimbulkan rasa gatal, yang kemudian berkembang menjadi vesikel, nekrose, dan ditutupi dengan jaringan parut berwarna hitam. Vesikel ini sering dikelilingi cincin yang terdiri atas vesikel – vesikel kecil. Lesi ini terkenal dengan nama carbuncle anthrax atau malignant pustule. Lesi ini umumnya tidak nyeri. Kelenjar lymfe regional umumnya membengkak. Apabila penyakit berlanjut, dapt terjadi septicaemia dan berakibat kematian.

 

  1. Per – inhalationum

 

Pada penderita anthrax yang tertular bakteri anthrax melalui pernafasan umumnya sifat penykitnya sedang dengan gejala sesak didaerah dada, batuk, dan demam tidak terlalu tiinggi. Setelah beberapa hari, muncul gejala dyspnoe akut disertai sianosis dan umumnya diikuti kematian dalam waktu 24 jam

 

Tindakan – tindakan yang harus diambil seorang dokter hewan bila menemukan hewan yang menderita anthrax:

  1. Melakukan diagnosa berdasarkan gejala klinis, pasca mati, dan serangkaian pemeriksaan (Bakteriologi, Biologis, Serologis) untuk menemukan hewan tersebut positif terserang anthrax atau tidak.
  2. Bila positif dilakukan pengobatan dengan pemberian antibiotika seperti penicillin dan oksitetrasiklin (apabila penyakit masih dalam tahap awal). Pengobatan dilakukan juga dengan pemberian antiserum dengan dosis untuk hewan besar 100 – 150 ml, dan hewan kecil 50 – 100 ml. Penggunaan antibiotika sering dikombinasikan dengan antiserum atau kemoterapi, dengan dosis antibiotika yang tinggi.
  3. Untuk tindakan pencegahan dapat dilakukan dengan karantina dengan pemvaksinan dengan menggunakan vaksin spora (aktif) namun avirulen.
  4. Bila hewan yang terserang anthrax ditemukan dalam keadaan yang sudah mati, maka bangkai harus segera dikubur cukup dalam dan ditimbun dengan kapur dan bangkai tersebut tidak boleh dilakukan autopsy (seksi).

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: