BRUCELLOSIS

Sifat-sifat kuman penyebab Brucellosis

  1. Batang
  2. Gram(–)
  3. Tidak berspora dan aerob
  4. Non motil

 Epizootiologi dan hewan-hewan  yang rentan terhadap Brucellosis

Epizootiologi:

  • Tersebar di pulau Jawa menyerang sapi perah
  • Tahun 1972 LPPH    →  Bekasi, Bogor, Kediri, dan Jakarta
  • Tahun 1975 Dinas kesehatan Denpasar →  menyerang manusia yang bekerja di RPH

Hewan yang rentan:

  1. Sapi & anjing → Brucella abortus
  2. Babi & anjing→ Brucella suis
  3. Kambing, kuda, babi→ Brucella abortus
  4. Kuda & domba → Brucella malitansis

Bahan sampel  yang diperlukan untuk diagnosis Brucellosis

Air susu : tidak semua mengandung kuman

Vol 20 ml, dibersihkan dengan larutan alcohol 70%

Pancaran 1 & 2 harus dibuang.

Dalam keadaan dingin

Vagina : diambil 6 minggu pasca kelahiran (kluron)

Mengeluarakan kawat, ujungnya diberi lilitan kapas (dapat menyerap)

Kapas dimasukkan dalam tabung gelas

Darah : perbenihan ( dari vena jugularis)

Daerah tersebut harus dicukur bersih dan digosok dengan kapas yang dicelup larutan alcohol 70%

Vol 10 ml dengan injeksi spuit + anti koagulan (heparin)

Darah : serologis

Placenta       : kotiledon yang terlihat paling tidak sehat → preparat ulas → fiksasi dengan larutan etanol

Fetus abortusan

Diambil dengan pipet

Isi lambung

Paru paru

Limpa

Mekonium

Karkas

Kuman mempunyai predileksi berbeda pada setiap jenis hewan

Sapi → lgl. Supramamaria, limpa, ambing, dan uterus.

 

Cara diagnosis dari Brucellosis

Pada hewan ada beberapa tahapan pemeriksaan serologis yang digunakan. Untuk screening, digunakan uji Rose Bengal atau rapid agglutination test. Uji ini mudah, murah, dan cepat, tetapi spesifitasnya kurang tinggi. Serum yang positif terhadap uji Rose Bengal perlu dilanjutkan dengan uji reaksi pengikatan komplemen (complement fixation test) atau ELISA. Untuk daerah baru pengukuhan diagnosis harus dilanjutkan dengan isolasi Brucella abortus.

Uji serum agglutinasi pada manusia sering ditemukan negative palsu, mekipun sebenarnya mempunyai titer yang tinggi. Untuk mengatasi hal ini digunakan uji Coombs atau anti-human globulin test, disamping uji serum agglutinasi dan uji pengikatan komplemen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: